Sebelum anda berusaha untuk membaca ini lebih jauh, saya anjurkan untuk membaca bismillah dan menguatkan mata anda agar tidak kelilipan karena tulisan tulisan di blog ini meruapakan tulisan hasil ekskresi otak yang gak karuuan dan saya pun gak tau punya otak apa enggak, serta jangan panik, maka berdoalah sebelum membaca hasil coretan iseng ini

Rabu, 28 Desember 2016

Love in Path (Bagian 3)

“Sabda rinduku aku memelukmu,
Remukkan lara dalam dekapan
Takkan usai, dawai rinduku takkan usai
Sungguh Mon Amour, engkau renjana”

Jumat, 6 Mei 2016

Bait lagu dari Glenn aku dengarkan pada pagi itu. Sambil menyiapkan pakaian PDH yang akan aku pakai nanti, lantunan lagu romance Glenn aku sengaja setel biar mood dari pagi uda oke.


Hari ini, Thessa akan ke Surabaya, hari ini kita ketemu lagi. Aku nggak terlalu banyak persiapan. Biasa aja. Seperti ketemu temen biasa. Berhubung pakaian non-dinas ku kebanyakan aku tinggal di Jogja, jadi aku mutusin buat pakai seragam aja pas ketemu Thessa nanti.
Thessa nggak pakai mobilnya sendiri. Katanya dia nggak kuat nyetir jauh. Mendingan naik bis katanya. Toh, dia juga nggak bakalan langsung pulang, bakalan nginep di rumah budhe nya di daerah Waru Sidoarjo. Bakalan ada acara gitu katanya.

14:30 Terminal Bungurasih.

Aku tunggu Thessa di dalem mobil sambil nyalakan AC karena aku males keringetan. Kesan pertama buat aku adalah “nggak boleh bau” itu!

Tolah-toleh kanan kiri. Banyak orang yang sepertinya juga sedang menunggu seseorang untuk di jemput. Ekspektasi ku hari itu sangat tinggi, aku berharap dating bisa jalan dengan lancar bisa ngobrol tanpa ada kalimat “Apalagi ya?” bisa jadi temen saling cerita tentang masalah dan kesenangan. Harapan seorang laki-laki pada setiap dating pasti seperti itu. Cukup gitu aja. Mungkin cewek agak beda. Mungkin ekspektasi cewek adalah makan malam romantis, coklat, bunga. Apapun itu lah yang menggambarkan cinta seorang pemuja kepada permaisurinya. Anyway, hanya opini aja.

Masih menunggu, jemari aku mainkan di atas stir mobil. Sambil sesekali ikut nyanyi kalau radio lagu nya lagi hapal, sesekali melihat jam di HP. Eh ada Whatsapp. Dia bilang dia sudah sampai maka turunlah saya dan menjemput.

Terlihat seorang wanita dengan baju putih dan celana jeans sambil mengenakan kacamata hitam yang di pasangnya di atas kepala. Model kacamatanya frame besar dan berwarna coklat kehitaman. Turun dari bis.

Pandangan nya melihat sekitar, sepertinya dia juga sedang mencari aku. Aku melihat dia duluan, jadi aku datengin. Sebelum aku sampai ke dia, dia sudah melihatku juga. Lambaian tangannya dari jauh seolah memastikan bahwa aku melihatnya. Lontaran kalimat perhatian aku tanyakan seolah ingin membuat suasana nyaman.

“Capek nggak? Tadi berangkat jam berapa?”
“Enggak kok. Tenang aja. 2 jam di jalan lumayan juga yaa. Untung aku ada yang nemenin”

Thessa ke Surabaya bersama dengan adiknya. Mungkin umur 14 tahunan. Rencananya se-keluarga dia memang mau liburan ke Surabaya. Ke rumah saudara disini tapi dia berangkat duluan biar bisa jalan sama aku. Gitu katanya, makanya dia bilang biar dia aja yang ke Surabaya, bukan aku nya yang ke Malang.

Masuk mobil.

Di Mobil, percakapan terdengar sangat canggung. Entah karena ada adik nya disini atau bagaimana. Yang jelas. Aku tidak merasa dan sama sekali tidak terganggu akan adanya adik gebetan. Sama sekali nggak ada masalah.

Sebuah percakapan bodoh terjadi ketika aku bertanya “Kita mau kemana?” bego banget. Harusnya aku yang planning. Harusnya aku yang ngajakin dia. Bukannya aku yang nanya. Bego banget.

Keputusan bego berikutnya adalah aku Thessa dan adiknya memutuskan untuk jalan ke mall. Well, like all we had known that, jalan ke mall harusnya adalah pilihan terakhir. Dan sepertinya itu memang pilihan terkahir kita.

Sebuah acara ketemuan yang sangat membosankan. Jalan jalan, nemenin liat liat baju, nemenin liat liat jam tangan. Membosankan. Sampai akhirnya nggak sampai satu jam di mall. Kita keluar lagi. Makan. Decision berikutnya.

Pertanyaan bego berikutnya dari aku pun muncul. Tebak. Benar!

“Kita mau makan dimana?”
Sebuah dating yang sangat datar. Sangat membosankan. Sangat biasa aja. Komunikasi nggak ada, Minim chit-chat, minim basa basi, kami sama-sama ngerasa kayaknya ini nggak seperti yang kita harapkan. Aku yakin, dia juga sama. Punya pemikiran yang sama dengan aku. Bagaimana kita bisa tahan dengan model ketemuan yang seperti ini.

Jam 19:00

Nonton. Keputusan kami terakhir. Sebenarnya nonton adalah bukan ide ku maupun ide Thessa. Itu ide adiknya. Katanya dia pengen nonton AADC 2. Waktu itu film itu masih baru tayang. Oke, sambil menuju jalan pulang, kita mampir di mall yang paling deket sama Sidoarjo. biar nanti pulangnya nggak malam malam. Film mulai jam 9 malam. Kita sampai sana jam 8. Satu jam nunggu film, kami duduk di depan pintu masuk studio bersampingan. Aku dan Thessa sebelahan tapi masih aja gitu.

Ada usaha dari Thessa agar suasana agak hangat. Ngajakin Selfie.

Ide cewek yang satu itu emang cukup bagus. Minimal terlihat akrab. Aku pun juga mulai ngajakin bercanda. Guyonanku sedikit demi sedikit juga bisa nimbulin tawa bareng. Kenapa suasana seru kayak gini baru hadir pas dating uda mau selesai.

Nonton film normal. Kami berdua prefer nonton film daripada ngobrol.

Perjalanan pulang, waktu uda malem banget sekitar hampir setengah 11, adik Thessa kayaknya uda tidur. Obrolan agak serius aku mulai. Aku bertanya. Sebenernya kita ini apa. Apakah bisa kita kayak gini. Jawaban Thessa seprtinya sangat yakin bahwa memang kita nggak bisa lebih jauh. Banyak ke nggak cocokan yang baru tau waktu hari ke-2 jalan. Chattingan 3 bulan terakhir hanya fana. Karena percuma, pasangan adalah partner ngobrol, apa yang kita lakukan kalau ketemuan? Ngobrol, sedangkan model obrolan kita nggak pernah match.

Sebuah pencerahan dari Tuhan, Thessa bukan sebuah dahan yang pas. Bukan sebuah pohon yang cocok. Mungkin pohon ini terlalu besar dan tinggi. Sementara aku adalah monyet yang kayaknya juga takut ketinggian. Bergelantungan di pohon yang tinggi aku menerima angina yang besar. Dan apabila jatuh, jaraknya terlalu tinggi, pasti bikin luka yang susah sembuh. Entah patah atau apalah.

Sampai di rumah,

Aku ingat percakapan di pertemuan terakhir dimana saat aku turun dari mobil dan Thessa bilang “I miss you” kata-kata itu yang menemaniku dalam perjalanan balik ke Surabaya. Tapi ini beda. Thessa turun dari mobil. Nggak ada kalimat yang spesial, nggak ada juga kesan yang spesial. Kami berdua setuju, Thessa bukan dahan yang pas. Aku juga bukan monyet yang pas.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komen kamu buat saya lebih rajin menulis