Sebelum anda berusaha untuk membaca ini lebih jauh, saya anjurkan untuk membaca bismillah dan menguatkan mata anda agar tidak kelilipan karena tulisan tulisan di blog ini meruapakan tulisan hasil ekskresi otak yang gak karuuan dan saya pun gak tau punya otak apa enggak, serta jangan panik, maka berdoalah sebelum membaca hasil coretan iseng ini

Senin, 26 Desember 2016

Sebuah Nama, dan Kenangan

Sebuah obrolan panjang pada Senin malam membuka semua memori yang sudah hampir tertutup. Memori yang bisa aku bilang indah dan sangat pengen aku kenang. Aku tulis ini bukan tanpa tujuan. Aku tulis ini bukan untuk belas kasihan. Aku tulis ini hanya untuk mengingatkan. Bahwa kamu, permaisuri yang sudah lama aku dambakan, telah mulai hilang. Dan kamu tegaskan. Bahwa permatamu memang sudah tidak ada Lih.




Pernah nggak kalian inget mantan? Aku yakin pernah. Inget mantan itu hal yang wajar. Hal yang lumrah. Apalagi kalau pasangan yang baru putus. Rasanya putus itu adalah keputusan yang sangat berat dan “harus” di sesali. Padahal putus itu memang pilihan yang harus dipilih pada saat kalian udah ngerasa nggal cocok atau yakin kalau hubungan kalian nggak bakalan lanjut.

Sebuah hubungan bisa bener-bener putus kalau keduanya sudah merasa “Okey, kayaknya putus adalah jalan yang tepat” atau. Putus oleh salah satu pihak, kemudian pihak yang lain tidak bisa menerima. Akhirnya meluapkan dengan cara menangis. Ini berlaku untuk cewek maupun cowok. Tapi lambat laun akhirnya terima juga. Itu lah yang dikatakan putus hubungan.

Lalu,

Apa yang terjadi kalau “putus” tapi salah satu pihak ataupun kedua belah pihak masih saling kontak-kontakan. Masih kepo satu sama lain. Kalau lagi buka FB, mampir ke FB mantan. Kalau lagi buka Twitter, kepoin Twitter mantan. Kalau lagi buka IG apalagi. Lebih pengen tau penampilan mantan dan foto mantan yang terbaru kayak gimana. Tapi biasanya hal yang kayak gini gak bakal berlangsung lama. Palingan kalau salah satu atau kedua nya uda punya pasangan baru.

Tapi, untuk beberapa pihak, keadaan dan perilaku seperti itu bisa saja berlangsung sangat lama. Meskipun dia sudah punya pacar. Meskipun sudah putus bertahun tahun. Meskipun mantannya udah mau nikah. Bisa aja keadaan ini terjadi. Bisa jadi keduanya, bisa jadi hanya salah satunya.

****

Hari itu indah. sebuah pesan singkat aku terima. Aku simpan. Pada jamannya hal seperti adalah sesuatu yang penuh romansa. Keadaan semakin bahagia ketika kita baca terus pesannya.

Hanya kata “iya”

Bisa buat aku bahagia.

Hari itu 10 Agustus. Mungkin kamu lupa. Tapi aku ingat. Tak peduli sekarang kamu dengan siapa. Aku masih slalu ingin tahu kamu dimana. Tak peduli sekarang kamu sedang apa. Aku masih slalu ingin tahu apa kamu baik saja. Tragedi keserakahan dan hanya selingan dibilang. Aku tepis. Aku bilang bukan.

Seorang permaisuri memutuskan pergi. Aku bilang jangan. Berulang kali aku bilang jangan. Kalaupun kamu mau pergi. Lebih baik kita pergi bersama. Dan kamu bilang. Tenang Galih, ada yang menjaga ku disini selain kamu. Ada yang menemaniku selain kamu. Kamu tidak perlu khawatir. Kamu ikhlaskan saja.

Ikhlas aku bilang. Namun tidak sampai sekarang.

Sampai sekarang. Impian dalam kenyataan adalah kamu. Perjalanan liku aku tak peduli. Sampai kini telah tiba, permaisuri memutuskan untuk mendapatkan yang terakhir.

Tetap saja tidak ikhlas. Khayalan yang kamu jelma. Masih terus aku kenang. Ini bukan nafsu. Ini tidak arogan. Aku hanya tersesat. Kamu masih seperti mawar merah berduri. Indah dan menusukku. Tapi masih ingin aku petik. Entah jauh disana kamu tumbuh.

Aku sekarang berada dalam persimpangan jalan yang kamu buat sendiri. Kamu adalah masa lalu indah yang sekarang ada di depan mataku. Dengan jalan setapak berbatu masuk kehutan gelap dan berbahaya. Tapi aku melhat sebuah menara tinggi indah. aku melihat sebuah castle besar dengan taman bunga di bawahnya. Tapi itu di ujung hutan gelapmu. Pertanyaannya. Apa aku bisa lewatin hutannya. Apa ada penjual lentera sekitar sini. Karena kamu gelap sekarang. Gelap sekali. Aku takut akan monster. Ada seorang gegasi duduk anteng di tengah hutan kamu juga. Sulit.

Aku selalu ingin membuat terang dengan mengawali obrolan. Sekali/duakali. Kerap tidak berhasil. Bukan nya aku awali dengan ramah. Bisa kah kamu coba ramah juga. Ayo kita terangi lagi jalannya. Aku yakin kalau kamu bisa beri aku lentera. Satu persatu kita coba kasih cahaya. Nggak peduli berapa lama waktu yang harus kita perlukan. Tapi aku yakin. Sebuah kepercayaan dan ketidak ikhlasan yang aku campur jadi satu membuat perasaan bingung dan keraguan. Akhirnya saat kamu beri lentara sekali lagi, aku menjatuhkannya. Aku tau itu salahku. Tapi, aku hanya takut. Ayolah.  

Come on.

Ada lagi,

Sebuah jalan terlihat di depan mata juga. Dengan jalan lurus tanpa kelokan. Tapi kosong. Tanpa tanda. Apa aku harus bangun sendiri di sekitarnya.  Apa aku bisa mulai dan membuat sesuatu yang baru disini. Tiap kali aku coba, terbangun sebuah gubuk. Namun roboh lagi. Tanpa pondasi. Semua sia sia. Aku mulai dengan hal yang kecil sebelum memulai castle. Aku nggak bisa.


Entah, apa sama hal yang kamu lakukan. Atau tidak sama.  Aku akan terus peduli. Akan terus mencari tau. Aku tidak akan pernah lupa. Atau kamu sudah emang benar benar lupa. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komen kamu buat saya lebih rajin menulis