Sebelum anda berusaha untuk membaca ini lebih jauh, saya anjurkan untuk membaca bismillah dan menguatkan mata anda agar tidak kelilipan karena tulisan tulisan di blog ini meruapakan tulisan hasil ekskresi otak yang gak karuuan dan saya pun gak tau punya otak apa enggak, serta jangan panik, maka berdoalah sebelum membaca hasil coretan iseng ini

Minggu, 05 Februari 2017

Momen di Bangku Taman

Januari, 2017

Suatu siang di Kota Jogja, suasana begitu panasnya. Penerbangan di Sekolahku masih berjalan lancar seperti biasa. Aku baru turun terbang, langsung naik duty di Tower dekat Sanggar. Duty atau piket adalah kegiatan selain terbang yang dilakukan oleh siswa Sekolah Penerbang untuk menjaga kelancaran jalannya penerbangan. Banyak yang kami lakukan saat duty. Inti dari tugas kami ya itu, menjaga jelannya penerbangan tetap lancar.


Di Tower aku duduk sendiri. Tidak ada yang menemani. Mataku tertuju pada radar komputer, fokus ke arah Training Are yang digunakan oleh teman-temanku yang sedang terbang. Seementara telingaku stand by mendengar Radio Komunikasi disini. Pekerjaan ini butuh kemampuan multitasking yang sangat lebih. apalagi kalau melaksanakan duty sendirian.

Entah, kenapa, Siang ini aku sangat tidak fokus. Mataku melihat, telingaku mendengar tapi pikiranku kemana-mana. Yang aku rasakan hanyalah rindu, rindu yang sangat besar, Nggak tau sebesar apa. Kalau pun bisa aku gambarkan, Aku sudah tidak bertemu dengan Diana sejak masa-masa sekolah. Iya, Diana, Nama wanita yang aku ingin Tuhan menjodohkan aku dengannya. Nama dia yang musti ada pada lantunan doa ku. Diana.

Lupakan soal siang itu, karena tidak ada yang bisa aku ceritakan. Yang aku rasakan saat itu hanya kangen.

****

Aku, sangat menyayangi Diana. But I dont know How She felt to me.

Dia adalah motivasi ku. Tujuan ku juga. Aku berusaha selalu untuk buat dia bahagia, Sementara ini yang bisa aku lakukan hanya belajar dan berusaha agar bisa jadi sukses.

Diana bukan pacarku. Diana adalah wanita yang aku idam-idamkan selama ini. Dari dulu sampai sekarang. Meskipun, aku selama aku menantinya, aku pernah selingi berpacaran dengan yang lain. Aku hanya ingin rasaku terhadap Diana, pindah ke orang lain yang sedang menjalin Hubungan dengan aku. Tapi sepertinya nggak bisa, Hubunganku selalu gagal. Entah tidak cocok, atau Diana selalu menjadi patokan dan perbandinganku. Sehingga aku selalu merasa, Aku lebih cocok dengan Diana.

Diana mungkin tidak menyadari betapa aku menyayanginya.

Sekarang dia sudah punya pacar, Sepertinya dia bahagia

Maaf, jika gaya tulisan ku lompat-lompat kesana kemari, aku menulis ini sesuai dengan apa yang aku pikirkan sekarang.

****

Sabtu petang, di Jalan Malioboro.

Aku berjalan-jalan di Jogja. Entah kenapa, aku pengen ke tempat yang ramai. Sepetinya, jalan Malioboro cukup ramai untuk menghilangkan kepenatan, Sekalian, bisa kah aku meghilangkan rasa ingin menghubungi Diana. Karena setiap masa-masa pesiar, yang aku ingin hubungi adalah dia, walaupun telfon dari aku sering (banget) di Reject olehnya. Kecewa? enggak. Aku tau, mungkin dia sedang bersama pacarnya.

Aku duduk di bangku taman nomor 2 dari ujung jalan dekat kantor POS di jalan Malioboro. Kala itu jam 19;30 an Malam. Aku duduk sendirian sambil mendengarkan musik EDM dengan headset sambil memandangi manusia lalu lalang di sekitar sini.

Dua bangku taman di sebelahku kosong, Tidak ada yang menempati.

Tidak lama, ada seorang wanita duduk di bangku taman sebelah ku. Dia duduk sambil memegang HP nya. Dia melihat ke kanan, ke kiri seperti menunggu orang lain juga. Sepertinya dia sedang janjian dengan orang lain.

Selang 15 menit aku masih duduk di bangku yang sama. Wanita di bangku yang lain pun juga masih duduk disana sambil memainkan HP nya. Sesekali dia melihat jam tangannya. Tidak lama, 2 orang wanita yang lain datang dan menghampiri dia. Apa yang aku lihat saat itu. Aku  melihat ekspresi Wanita yang menunggu tadi. Bisa begitu? Mimik dia bisa berubah seketika setelah melihat 2 temannya sudah datang. 15 menit dia menunggu dengan wajahnya yang agak gusar langsung berubah seneng dan lega seolah ingin berkata "Akhirnya kalian datang"

Aku masih duduk di bangku yang sama. Suasana semakin ramai. Lampu kelap kelip, hiruk pikuk suara pengamen jalanan dan teriakan bahagia warga sekitar sini terdengar sampai menembus headset yang sedang aku pakai.

Jam 20:00

Selagi aku memainkan HP ku, ada seorang bapak paruh baya duduk di sebelahku. Menyapa,

"Mas, Ngapain mas?"

"Nunggu temen pak" Jawabku "Kalau bapak disini ngapain?"

"Itu anak saya, nemenin mas. Dia suka lihat badut badut di sini. Sesekali mas, Biar anak saya senang"

Di jalan-jalan sini banyak yang bisa di jumpai. Ada pengamen jalanan, ada Badut, ada cosplay anime, ada pertunjukkan reptile, ada cosplay Hantu-hantu. Banyak. Sepertinya, orang-orang disini memang bertujuan untuk menyenangkan dirinya dengan orang-orang terdekatnya,

Tak lama, bapak itu kemudian pamit pergi.

Bangku taman ku kembali terisi. Kali ini pasangan. Mereka sambil membawa minuman dingin duduk disana sambil tersenyum satu sama lain. Laki-laki nya menunjuk ke arah pertunjukkan reptile di seberang jalan seolah bercerita tentang apa yang dia ketahui dan memperagakab gestur tubuh seolah menggambarkan yang sedang dia ceritakan terhadap pacarnya. Aku pun ikut memperhatikan, meskipun cerita laki-laki itu tudak terdengar oleh ku. Kemudia mereka tertawa bersama. Tak lama, mereka pergi melihat pertunjukkan tersebut.

Aku masih duduk disini.

Suasana makin ramai. Pengamen dengan sentuhan keroncong memberikan lagu yang enak di dengar. aku pun melepas headsetku dan ikut menikmati musik nya. Sedikit rasa kangenku pada Diana sedikit hilang. Malam itu, aku sudah tidak berusaha untuk menghubungi Diana lagi. Aku tau, dia sedang bersama pacarnya.

****

Entah, kenapa Tuhan memberi aku perasaan seperti ini. Kenapa aku harus menyayangi nya sedalam ini sampai Aku tetap ingin menghubnginya meskipun aku tau, Diana adalah milik orang lain.

Bukan maksud hati ingin merusak hubungan. Aku hanya Rindu. Aku hanya ingin mengisi bangku taman yang kosong di sebelah ku ini. Betapa sulit aku membuat dia duduk disebelahku. Betapa inginnya aku untuk dia duduk disini sambil mendengarkan aku bercerita soal Jogja. Soal apa yang aku tau tentang tempat ini. Sampai aku pulang, bangku taman ini masih belum terisi.

Diana jauh disana. Betapa sulit untuk menghubunginya. Sama seperti betapa sulitnya meyakinkan Diana. Bahwa masih selama ini, dia masih belum tergantikan. Sampai sekarang. Sampai saat aku menulis cerita ini, Diana masih menjadi wanita yang ada dalam doa ku.

2 komentar:

  1. I know who Diana is.

    BalasHapus
  2. Diana wants to hug you as well, and wipe your tears bcs she felt the same way. But she can't.

    BalasHapus

komen kamu buat saya lebih rajin menulis