Sebelum anda berusaha untuk membaca ini lebih jauh, saya anjurkan untuk membaca bismillah dan menguatkan mata anda agar tidak kelilipan karena tulisan tulisan di blog ini meruapakan tulisan hasil ekskresi otak yang gak karuuan dan saya pun gak tau punya otak apa enggak, serta jangan panik, maka berdoalah sebelum membaca hasil coretan iseng ini

Minggu, 28 Mei 2017

What If, Rules.

*Kriiiing*

Suara telfon berbunyi dari hp ku yang aku letakkan di atas meja di sudut kamar kos. Hari Sabtu, hari pesiar, hari puasa pertama. Masih semangat, suasana hati masih prima buat puasa. Ramadhan di lembah pendidikan emang nggak kerasa Ramadhannya. Gimana enggak, Kegiatan dan kehidupan sama aja. Yang terbang ya terbang, yang groundschool ya groundschool. Bedanya, kita nggak dapat makan siang. itu aja.

Waktu jam 4 sore an. Aku dengan malas bangun dari tidur siang dan suasana 'pewe' dan mengambil hp buat sekedar ngecek ada pesan atau telfon dari siapa. Sewaktu beranjak, hp sudah aku pegang, dering telfon berhenti. Rupanya Ayah menelfon


Segera aku telfon balik.

"Halo Ayah, ada apa?"

"Mas kok hpnya susah di hubungi. Line, WA, telfon. Mas kemana?"

"Aku lagi tidur Yah. Sorry. Ada apa?"

Kemudian Ayah ku menceritakan perihal kamarku yang sudah ia cat ulang katanya. Katanya cat semulanya warna biru udah mulai luntur. Kayaknya bagus kalau diganti. Iya emang sih, Cat kamarku uda mulai luntur. Terkahir aku pulang ke Surabaya, aku juga berfikiran buat nge cat ulang. cuman ga ada waktu aja dan masih suka bahkan nyaman banget sama cat nya.

Sepertinya, merubah suasana kamar itu ibarat kita merubah perasaan. Takutnya, jikalau terlanjur berubah, ujung-ujungnya nggak cocok. Makanya, tadi agak sedikit kaget waktu ayah ngasih tau kalau mau ngerubah warna tembok di kamar.


****

Kenapa harus dibatasin kayak gini? Aku bukan orang jahat. Aku hanya orang yang sudah meletakkan hati ku pada satu orang. Refi.

Miris, Sedih, dan sedikit marah. Aku nggak ngerti apa yang Refi coba perbuat dengan ku, dia block semua ID ku di Sosmed. Bahkan Whatsapp pun di block. Apa harus dia seperti untuk memaksa saya pergi dan menyerah. Atau ini hanya taktik gerilya sang pangeran untuk melindungi dia. Dengan menyebunyikan dia dan tidak tau kapan muncul. Gerilya..... aku bukan orang jahat

Berbaiklah pada zaman. Adat jawa budaya sungkan. Baik. Tapi, akankah selalu memaksanan sepeti ini.

Aku masih percaya, perasaan kita sama. Hanya saja kamu sekarang berada di tebing tinggi. dan aku menunggu di bawah. Jika aku jadi kamu, aku akan loncat. Aku yakin, kamu di bawah sudah memersiapkan segalanya supaya aku selamat. Karena aku percaya kamu dibawah juga menginginkan untuk aku loncat. Aku bukan bunuh diri. Hanya saja aku berbaikan pada diriku dan jujur dengan perasaan ku.

Aku sedang tinggi, namun bukan ini mau ku. Bisakah aku turun sekarang, bertemu kamu? nanti kita naik lagi. Bedanya, aku naiknya sama kamu.

Refi, aku akan tetap sabar menunggu kamu. Aku akan menjadi menusia yang dapat kamu yakini untuk lompat.

Refi, Aku tidak akan pernah sia-sia kan kamu. Aku sekarang memang sedang diam. Tidak bisa kemana-mana, Tinggal beberapa bulan lagi kerangkeng ini aka dibuka. Aku akan bermetamorfosa. Tapi percayalah, kupu-kupu yang kamu lihat adalah ulat yang sama yang kamu kenal selama ini.

Batang pohom yang kamu punya memang belum rapuh. Monyet yang sedang duduk disana sepertinya akan betah. Akan kamu menebang batangmu. Dan memaksa monyet itu untuk jatuh? Apa yang kamu tunggu? Badai? Petir? Sehingga batang kalian patah dan monyet pergi. Atau mungkin, Kamu berdiri tegak dan batangmu semakin kokoh dengan monyet itu?

Refi, hujan di luar rumah ku akan segera selesai, dari ramalan cuaca, akhirtahun, mungkin beberapa bulan lagi hujan selesai. Aku akan segera menjemput kamu. Aku akan keluar dari rumahku ini dan pergi menjelajah. Mencari rumahku sendiri.

Sudahlah, aku lelah bersandiwara seolah aku baik-baik saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komen kamu buat saya lebih rajin menulis