Sebelum anda berusaha untuk membaca ini lebih jauh, saya anjurkan untuk membaca bismillah dan menguatkan mata anda agar tidak kelilipan karena tulisan tulisan di blog ini meruapakan tulisan hasil ekskresi otak yang gak karuuan dan saya pun gak tau punya otak apa enggak, serta jangan panik, maka berdoalah sebelum membaca hasil coretan iseng ini

Rabu, 21 Februari 2018

Akhir dari Perjalanan Cinta

Aku mencintai kamu lebih dari apapun, Aku menyayangimu tanpa ada syarat apapun, Aku menginginkan mu dengan sepenuh iktiarku tanpa harus kamu lihat sedikitpun. Bertahun sudah aku ikhtiarkan, bertahun sudah aku pertahankan, bertahun sudah aku selalu doakan. Namun, inilah tiba, kita diujung jalan dan petualagan kita.

Cinta masa kecil, naif jika tidak berpikiran itu menjijikkan.

Cinta remaja, dimana sejuta harapan besar tercipta tanpa memikirkan sukar jalan menuju kesana

Cnta dewasa, Mencintai dengan berbagai alasan, mencintai dengan ribuan pertimbangan, mencintai dengan rancangan dan tujuan,


Minggu, 07 Januari 2018

Bilakah Aku Berlabuh? (bagian 1)


Perkenalkan, aku adalah pemilik kapal ini. Kapal ini aku beri nama "Kisah". Nama yang cukup bagus bukan. Nama ini adalah pemberian dari sang pemilik dermaga yang pernah aku tinggalkan berkelana. Dermaga nya ia beri nama "Kasih". Sudah hampir tujuh tahun aku meninggalkan dermaga ku. Sudah saatnya untuk pulang. Dan mengisi tempat ku dulu di dermaga itu.

Sabtu, 18 November 2017

Mampir

Sebuah perjalanan yang pernah aku alami dimana kita sudah berkelana kesana kemari bersama nya, untuk menemaninya namun tidak untuk memilikinya. Dia hanya mampir. Pengalaman ini menyenangkan? Ya! Saat aku mengalami dan tengah berada di dalamnya. Namun, pengalaman ini menyakitkan ketika tau, Wanita yang aku anggap kesayangan. Hanya mampir.

Seperti kalimat yang pernah aku dengar dan aku baca “Suatu hubungan akan indah bila yang terjadi adalah Saling. Bukan sekedar paling”

Senin, 06 November 2017

Berhenti Berharap

Aku tak percaya lagi
Dengan apa yang kau beri
Aku terdampar di sini
Tersudut menunggu mati

Aku tak percaya lagi
Akan guna matahari
Yang dulu mampu terangi
Sudut gelap hati ini

Senin, 30 Oktober 2017

Permata, Maaf Engkau Aku Jatuhkan



“Kita pada mau kemana nih?” Tanya Wayan

“Yaudah, ke Kokas aja sekalian ngater Marthin sama Kezia jalan. Jadi kita numpang aja gitu, Mereka kan juga pada mau ke Kokas” Jelasku sambil melihat wajah Marthin yang sedang telfonan dengan Kezia pacarnya untuk rencana kapan dan jam berapa mereka jalan.

Siang itu, suasana di Jakarta lagi dingin alias mendung. Aku  melihat sekeiling langit didepan rumah Marthin sudah berubah warna jadi abu-abu. Lalu, beberapa tetangga sudah mulai memasuk kan jemuran mereka padahal masih jam 12 siang. Aku rasa, mereka juga sependapat dengan ku bahwa sebentar lagi bakalan turun hujan.